Halo! Aku di sini mau berbagi tentang beberapa kesalahan penulis pemula. Sebenarnya, aku sendiri juga masih pemula, tapi aku juga sudah menelusuri berbagai karya penulis yang benar-benar pemula. Dan hap! Aku menemukan berbagai kesalahan yang sama.
Di sini, semua yang akan kalian baca, adalah hasil penelusuranku yang aku rangkum. Jika ada yang ditanyakan, silakan saja komentar, nanti aku jawab, kok.
KATA DEPAN
Nah! Kata depan ini banyak sekali yang salah. Untuk kalian para penulis pemula yang nggak tahu apa itu kata depan, kata depan itu kata yang berada di depan, hehe. Maksudnya seperti kata 'di'.
Nah, perbedaan penggunaan kata depan ada dua macam, yakni:
1. Berada di depan kata kerja dan atau kata sifat.
Maksudnya, jika ada kata 'di' di depan kata kerja seperti makan, laknat, bunuh, dll., itu TIDAK dikasih space/jarak/spasi.
Contoh: dimakan, dilaknat, dibunuh, dihantam, dipaksa, ditelan, dipisah, dll.
2. Berada di depan kata yang merupakan penunjuk arah dan atau lokasi suatu tempat.
Maksudnya, jika ada kata 'di' di depan kata yang menunjukkan arah seperti depan, belakang, atas, bawah, dll., dan atau di depan kata yang merupakan lokasi suatu tempat seperti angkasa, Eropa, kantong, laci, dll., itu DIKASIH space/jarak/spasi.
Contoh: di bawah, di atas, di angkasa, di kantongku, di rumahku, di sampingmu, dll.
TANDA BACA
Untuk poin kedua ini, ada beberapa penulis pemula yang sudah benar, namun ada beberapa juga yang masih belum benar. Di sini, aku akan menjelaskan secara singkat bagaimana menggunakan tanda baca yang tepat di dunia kepenulisan.
Tanda baca itu ada banyak, seperti titik(.), koma (,), petik dua ("), tanda tanya (?), dll. Nah, aku pernah melihat ada beberapa yang menggunakan tanda tanya namun setelah itu dibeti titik, ITU SALAH.
1. Titik (.)
Tanda baca satu ini biasanya berada di akhir kalimat berita. Kalimat berita itu apa? Kalimat berita itu adalah kalimat yang tidak mengandung unsur tanya. Contoh kalimat berita: Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada.
Nah, tanda titik ini tidak usah diberi teman, maksudnya, setelah tanda titik, itu yasudah, selesai. Nggak usah diberi tanda koma-lah, atau tanda tanya-lah.
2. Koma (,)
Tanda koma berfungsi sebagai penjeda sesaat dalam suatu kalimat. Sama halnya dengan tanda titik, tanda koma tidak usah diberi teman. Contoh penggunaan tanda koma: Aku suka sekali sejarah, oleh karena itu aku memiliki banyak sekali buku-buku sejarah.
3. Petik dua (")
Nah! Ini dia. Banyak sekali yang mungkin belum mengerti benar tentang penggunaan tanda petik dua. Tanda petik dua ini biasanya digunakan untuk dialog.
Contoh penggunaan tanda petik dua yang benar:
a. "Kamu itu gimana sih!" bentakku pada Reyna karena dia tidak bekerja dengan benar.
b. "Aku tahu," ucapku, "aku bisa mengerti kesibukanmu. Jadi kamu tidak usah mengkhawatirkanku."
Bisa lihat perbedaannya 'kan?
PENGGUNAAN HURUF KAPITAL
Oke, untuk yang ini, masih ada beberapa yang salah, meskipun hanya beberapa. Aku paham kok, karena aku juga sebagai penulis pemula pun masih ada kesalahan. Baik, aku hanya akan membahas huruf kapital dalam kepenulisan, yah!
1. Setelah tanda petik dua
Penggunaan huruf kapital pada bagian inilah yang masih seringkali salah. Huruf kapital yang benar jika setelah tanda baca petik dua mungkin ada sedikit banyak macamnya, ehehe.
Berikut penggunaan huruf kapital yang benar:
a. "Siap!" ucapku pada ibu.
Di sini, huruf 'S' setelah tanda petik dua kapital yah, jangan sampai tidak, karena editor juga melihat hal-hal kecil seperti itu loh.
b. "Aku nggak mengerti deh," tukasku.
Huruf 'T' dari kata 'tukasku' itu kecil ya, bukan kapital. Kenapa? Karena 'tukas' merupakan kata kerja. Kata kerja itu seperti tukas, ucap, kata, sahut, teriak, dll..
Kalau bukan kata kerja, berarti menggunakan huruf kapital ya. Contoh kalimat yang bukan kata kerja: "Kamu saja." Aku menatapnya sinis sekilas lalu membalikkan badan dan berjalan menjauhinya.
Lihat perbedaannya 'kan?
Ups! Aku lupa! Kalau kata kerja, sebelum tanda petik yang kedua pakai koma (,) ya! Contoh: "Bilang saja kalau kamu bohong," ucapku. Kalau bukan tanda koma melainkan tanda seru, ataupun tanda tanya, tetap saja, jika kata kerja nggak pakai kapital.
Kalau bukan kata kerja sebelum tanda petik yang kedua pakai titik (.) ya! Contoh: "Aku mengerti. Maaf." Aku menahan tangisanku sekuat tenaga.
2. Dalam suatu kalimat
Nah! Selain yang setelah tanda baca, aku rangkum sisanya di poin yang ini ya, hehe. Ups, kalau boleh kalian tahu, aku capek loh nulis sendiri, hehe. Tapi nggak apa, semangat!
Berikut penggunaan huruf kapital:
a. Nama geografis jika diikuti kata penjelas
Contohnya seperti Gunung Merapi, Danau Toba, Sungai Musi, dll. Kalau hanya gunung, danau, sungai, itu kecil ya. Huruf kapitalnya nggak berlaku(:
b. Nama daerah dalam suatu negara
Contohnya : Kota Jakarta, Kabupaten Malang, Desa Tanjung Sari. Kalau hanya kota, kabupaten, desa, dll., tanpa kalimat penjelasnya, itu huruf kapital nggak berlaku ya(:
c. Panggilan jika diikuti jabatan
Contohnya : Bapak Kepala Desa, Ibu Kepala Sekolah, dll. Jika hanya bapak, ibu, dll., itu huruf kapital nggak berlaku ya, hehe.
d. Pelajaran yang menyebut nama negara atau suku
Contohnya : bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jawa. Oke, di sini bisa dilihat 'kan? Kata 'bahasa'nya kecil ya(: Yang menggunakan kapital hanya 'Indonesia' atau 'Inggris' ataupun 'Jawa'.
KATA ASING
Oke, ini mungkin yang terakhir ya, hehe. Penggunaan kata asing jika dalam dunia kepenulisan (Novel, cerpen) itu menggunakan italic ya, tau biasanya lambangnya huruf I miring (I).
Contohnya seperti : I know, but you have to, okay, i don't care, don't you mind?
Nggak peduli jika di dalam dialog ya, teman. Baik sebagai narasi ataupun dialog, jika ada kata asing tetap di italic ya! Bukan cuma bahasa Inggris aja loh, tapi juga bahasa asing lainnya, hehe.
***
Nah, kalau kalian masih bingung, nih, aku kasih beberapa contoh struktur kalimat, termasuk penggunaan huruf kapital, kata asing, kata depan, dll.
Here you are!
Aku melangkah dengan mantap kali ini. Tekadku semalam sudah bulat. Aku tidak ingin disakiti lagi oleh lelaki yang tidak mengerti dengan benar apa itu cinta. Aku sudah menyerah dengannya. Sudah cukup.
"Nindya!" Aku mengenal suara itu. Sangat. Suara yang selalu memberikan efek sakit pada hatiku. Pemiliknya yang tidak pernah capek memberikan luka sayatan pada hatiku.
"Apa?" ucapku dengan malas.
"Lo kenapa sih?" tanyanya heran. Aku mengangkat kedua bahuku acuh, "i don't know. But this is the real me. Kenapa?" jawabku seraya kembali melangkah menuju kelas.
"Please dong Nin. Bantuin gue buat deket sama Diana. Tolong, lo 'kan temen deketnya Diana," mohon Devan dengan memasang wajah memelasnya.
"Tolong juga dong Dev. Lo jangan cerita apapun di depan gue tentang Diana. Gue emang deket sama dia, tapi nggak semenjak lo mohon-mohon kayak tai gini di depan gue. Gue emang sahabatan sama lo dari kecil, Dev. Tapi kali ini, gue harap lo bisa menjauh dari gue," ucapku dengan tegas lalu melangkah menjauhi Devan yang terlihat masih mematung karena ucapanku.
Shit!batinku dalam hati.
Ingin sekali aku memeluknya sekarang, meminta maaf sebesar-besarnya, lalu meluapkan semuanya sekarang juga. Tapi logikaku tidak sejalan dengan hatiku. Logika berkata, kalau semua yang aku akukan sekarang sudah benar.
Aku berusaha mati-matian untuk tidak menangis ketika mengucapkan semuanya langsung di depan Devan. Kali ini, tekadku benar-benar sudah bulat. Aku harus menjauhi Devan. Bagaimana pun caranya.
"Yas, hari ini ada bahasa Indonesia 'kan?" tanyaku. Tyas mengangguk seraya tersenyum lebar padaku.
"Nin, lo tahu nggak. Katanya ketua kelas, kelas kita bakalan liburan ke Pulau Bali loh. Gila, ini cuma kelas kita doang. Tapi katanya Gaga nunggu persetujuan Bapak Handoko Priyadigdo alias Bapak Wali Kelas kita tersayang," cerocos Tyas yang hanya bisa kuhadiahi sebuah senyuman manis andalanku.
***
Kalian bisa melihat 'kan? Itu yang secuil karanganku di atas sudah benar semua ya insyaAllah, hehe. Untuk teman-teman, kalau ada yang ditanyakan boleh kok. Tinggalkan komentar aja di bawah, nanti aku balas sebisaku(:
Semangat menulis!
Lots of Love, Flo.

